Hari ini adalah hari terakhirku berstatus sebagai guru di lembaga pendidikan Islam ini. Tetapi, mohon maaf, kalau saya masih menggunakan jasa layanan internet untuk menulis semua kenangan selama mengamalkan ilmu di sini. Saya melakukannya supaya dapat menghayati yang akan kutuangkan ke dalam blog ini.
Tidak jarang saya berpendapat bahwa saya termasuk berani dalam mengungkapkan semua yang saya rasakan dan pikirkan walaupun hanya dalam bentuk tulisan. Harus saya akui bahwa beberapa tulisan di blog saya memang menceritakan hal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Meskipun demikian, sungguh bukan maksud saya mencela, sedikit juga tidak ada maksud semacam itu dalam diri ini. Itu semua saya tulis karena ingin lembaga ini tetap berdiri kokoh. Jangan sampai karena masalah sepele, lembaga ini ambruk.
Bukan berarti saya merasa lebih baik apalagi paling baik. Jujur saja, saya sering merasa sayang jika sebuah lembaga pendidikan yang Islam dan notabene terkenal pula ternyata ada beberapa hal yang kurang pas kita lakukan sebagai umat Islam. Misalnya cara bercanda, menyapa, atau menegur pegawai yang lalai. Kadang-kadang kita masih belum mampu mempertimbangkan perasaan orang lain.
Dalam sebuah pelatihan (alhamdulillah bukan guru kita yang jadi pembimbing) ada beberapa orang yang terlambat. Dengan sinis si Pembimbing menegur para peserta yang terlambat tanpa menanyakan alasan mereka terlebih dulu. Padahal para peserta terdiri dari guru, ibu, dan bapak rumah tangga yang pasti harus menyelesaikan urusan lebih dulu (belakang hari saya tahu ternyata ada seorang ibu walimurid yang baru saja datang dari Surabaya dalam keadaan berpanas-panas ria). Saya sendiri baru membagikan rapot dan tentu harus mendengarkan curhat para walimurid. Saya heran dengan si Pembimbing yang tidak punya rasa hormat itu. Saya sempat menyahut gusar campur geli, "Kalau disuruh pulang malah kebetulan." Si Pembimbing itu tidak menjawab. Mungkin dia sedikit menyadari kesalahannya.
Melalui blog ini, saya mohon kepada lembaga agar mengadakan pelatihan untuk para pembimbing yang harus mengajar orang dewasa, supaya beliau mempunyai sedikit etika dalam membagikan ilmu.
Saya sangat menyadari betapa banyak kekurangan dan kesalahan yang telah saya lakukan, ter-
lebih jika hal itu menyangkut bidang yang saya geluti. Dari masalah penulisan EYD sampai tegak bersambung, saya termasuk ngotot dan dapat dikatakan memaksa. Jelas sudah bahwa saya adalah guru bahasa Indonesia yang menakutkan bagi para murid. Selain itu jika menjadi walikelas, saya merupakan sosok yang mampu membuat kelas senyap seketika. Mengenai hal ini ada cerita lucu saat saya menjadi walikelas IV.
'Saat itu kelas saya berada di SMP. Menurut teman-teman, supaya saya mudah mengawasi anak-anak sambil mengajar di sana.
Suatu pagi, kepala SMP memperhatikan keadaan kelasku dari balik kaca jendela. Beliau terheran-heran melihat murid-murid yang duduk manis sambil membaca buku.
"Wah, Bu, kok bisa ya anak-anaknya begitu tenang? Apa resepnya?"
"Tertekan, Pak, "jawab saya yang saat itu berdiri di depan pintu.
"Tertekan? Maksud Ibu tertekan karena kelas mereka berada di sini sehingga jauh dari teman-teman yang lain?"
"Bukan, Pak."
"Lalu?"
"Tertekan karena walikelasnya saya."
"Ah, ada-ada saja, "sahut kepala SMP tersenyum. '
Alangkah bahagia hatiku karena lembaga telah memberi kesempatan untuk mengamalkan ilmu yang secuil ini. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan saat saya mendapat kesempatan untuk membagikan ilmu dan mereka yang menerima merasa mengerti serta puas, terlebih lagi jika nilai para siswa ternyata semua memuaskan.
Malam ini saya ingin mengenangkan segala yang menyenangkan di sini. Jadi izinkan saya untuk kali terakhir menggunakan fasilitas internet ini. Insya Allah, ini bukan tulisan terakhir saya di blog ini walaupun kemudian saya akan pergi ke warnet yang berada sekitar limaratus meter dari rumah. Besok saya akan menuju kota kelahiranku setelah membereskan semua yang belum tuntas.
Semoga Allah Swt. memberikan hidayah-Nya bagi kita semua. Amin.
Jumat, 01 Agustus 2008
Selasa, 29 Juli 2008
Pelajaran Akuntansi
Ingin tahu pelajaran yang sering membuat perut saya mulas sebelum berangkat ke sekolah? Ya, matematika dan semua hal yang berhubungan dengan angka. Saya memang paling tidak suka jika harus menghitung sesuatu, kecuali menghitung uang, apalagi kalau uang itu milikku sendiri.
Tetapi saya tidak bisa menghindar dari pelajaran tersebut sampai duduk di bangku SMA. Meskipun saya mengambil jurusan sosial (karena SMA tidak menyediakan jurusan bahasa), tetap saja ada matematika. Yang lebih mengenaskan lagi, ada pelajaran akuntansi yang berhasil membuat saya begadang selama tiga tahun!
Begadang selama tiga tahun? Ini kisah nyata, Saudara! Setiap kali mendapat tugas akuntansi, saya berubah menjadi kelelawar. Hm, sebutan itu rasanya juga kurang tepat, sebab saya tidak sempat bobo siang (kalau membaca majalah yang bernama Bobo memang sempat) sebab saya langsung berkutat dengan PR yang berjumlah 2 soal itu sampai dua jam. Malam setelah belajar pelajaran untuk esok, saya masih berkutat lagi sampai jam 00.00. Pukul tiga dini hari, setelah melaksanakan keperluan, saya mencoba berjuang lagi dan berhenti saat azan subuh.
Setengah jam sebelum berangkat, aku menyerah. Saya meminta ayah untuk membaca PR. Bapak memang ahli akuntansi tetapi saya tidak puas jika belum mencoba sendiri. Akhirnya saya menyalin jawaban Bapak dalam waktu 10 menit (soal salin-menyalin ini saya lumayan kuat, maklum biasa mencangkul , eh maksudku biasa menulis).
Nilai akuntansi saya biasa saja tidak pernah beranjak dari angka 7. Maklum otak saya memang buntu jika harus berhadapan dengan pelajaran ini. Akuntansi membuat kedua kelopak mataku terasa berat dan nyaris selalu menguap di kelas. Meskipun demikian, saya harus belajar giat agar dapat segera lulus dan tidak bertemu dengan pelajaran yang menyiksaku ini.
Akhirnya nilai 9 kudapatkan. Nilai 9 untuk pelajaran yang sedikit pun tidak kusukai. Alhamdulillah, ternyata benar Allah Swt. memberikan pahala apabila kita mau berusaha tanpa mengenal putus asa.
Tetapi saya tidak bisa menghindar dari pelajaran tersebut sampai duduk di bangku SMA. Meskipun saya mengambil jurusan sosial (karena SMA tidak menyediakan jurusan bahasa), tetap saja ada matematika. Yang lebih mengenaskan lagi, ada pelajaran akuntansi yang berhasil membuat saya begadang selama tiga tahun!
Begadang selama tiga tahun? Ini kisah nyata, Saudara! Setiap kali mendapat tugas akuntansi, saya berubah menjadi kelelawar. Hm, sebutan itu rasanya juga kurang tepat, sebab saya tidak sempat bobo siang (kalau membaca majalah yang bernama Bobo memang sempat) sebab saya langsung berkutat dengan PR yang berjumlah 2 soal itu sampai dua jam. Malam setelah belajar pelajaran untuk esok, saya masih berkutat lagi sampai jam 00.00. Pukul tiga dini hari, setelah melaksanakan keperluan, saya mencoba berjuang lagi dan berhenti saat azan subuh.
Setengah jam sebelum berangkat, aku menyerah. Saya meminta ayah untuk membaca PR. Bapak memang ahli akuntansi tetapi saya tidak puas jika belum mencoba sendiri. Akhirnya saya menyalin jawaban Bapak dalam waktu 10 menit (soal salin-menyalin ini saya lumayan kuat, maklum biasa mencangkul , eh maksudku biasa menulis).
Nilai akuntansi saya biasa saja tidak pernah beranjak dari angka 7. Maklum otak saya memang buntu jika harus berhadapan dengan pelajaran ini. Akuntansi membuat kedua kelopak mataku terasa berat dan nyaris selalu menguap di kelas. Meskipun demikian, saya harus belajar giat agar dapat segera lulus dan tidak bertemu dengan pelajaran yang menyiksaku ini.
Akhirnya nilai 9 kudapatkan. Nilai 9 untuk pelajaran yang sedikit pun tidak kusukai. Alhamdulillah, ternyata benar Allah Swt. memberikan pahala apabila kita mau berusaha tanpa mengenal putus asa.
Selasa, 01 Juli 2008
Harta Yang Paling Berharga
Beberapa tahun terakhir ini aku baru menikmati kembali indahnya persaudaraan. Bukan hanya persaudaraan karena sesama muslim, lebih dari itu karena ini adalah persaudaraan dalam arti yang sebenarnya.
Dulu, mungkin kami sama-sama kaku, keras kepala, dan belum dewasa. Tidak ada yang mau mengalah. Hampir setiap hari bertengkar, seolah-olah tidak ada bedanya dengan anjing dan kucing.
Ya, itulah kami, aku dan kakakku.
Sebenarnya tidak pernah bosan ibu dan bapak kami selalu menasihati bahwa seharusnya kami saling menyayangi. Lebih-lebih kepada kakakku, Ibu sering mengingatkan tentang rentang usia kami yang hampir lima tahun dan rasanya tidak pantas remaja SMA umur 17 tahun ribut dengan adiknya yang masih 12 tahun serta baru lulus SD.
Tiada hari tanpa bertengkar. Ada saja masalah yang membuat kami naik pitam bahkan tidak jarang diselingi adu makian dan main jambak. Baru berhenti jika kedua orangtua melerai sambil memarahi kami berdua.
Tetapi itu dulu. Ada sesuatu yang membuat kami berubah pikiran. Kalau kakak beradik yang lain begitu rukun dan saling menyayangi, mengapa kami tidak sanggup berbuat demikian? Aku sering terpesona melihat adegan seorang kakak menggandeng adiknya atau mendengar kisah persaudaraan yang selalu bersama dalam suka dan duka.
Baru kusadari bahwa persaudaraan yang dihiasi kasih sayang, saling mengerti, dan mau menerima kekurangan dan kelebihan yang dimiliki saudara kita dapat menghadirkan perasaan yang begitu indah. Indah, bahkan lebih indah dibanding kilau permata dan intan berlian. Lebih menyejukkan dari tetes embun dini hari. Aku telah menemukan harta yang paling berharga : persaudaraan yang penuh kasih sayang.
Dulu, mungkin kami sama-sama kaku, keras kepala, dan belum dewasa. Tidak ada yang mau mengalah. Hampir setiap hari bertengkar, seolah-olah tidak ada bedanya dengan anjing dan kucing.
Ya, itulah kami, aku dan kakakku.
Sebenarnya tidak pernah bosan ibu dan bapak kami selalu menasihati bahwa seharusnya kami saling menyayangi. Lebih-lebih kepada kakakku, Ibu sering mengingatkan tentang rentang usia kami yang hampir lima tahun dan rasanya tidak pantas remaja SMA umur 17 tahun ribut dengan adiknya yang masih 12 tahun serta baru lulus SD.
Tiada hari tanpa bertengkar. Ada saja masalah yang membuat kami naik pitam bahkan tidak jarang diselingi adu makian dan main jambak. Baru berhenti jika kedua orangtua melerai sambil memarahi kami berdua.
Tetapi itu dulu. Ada sesuatu yang membuat kami berubah pikiran. Kalau kakak beradik yang lain begitu rukun dan saling menyayangi, mengapa kami tidak sanggup berbuat demikian? Aku sering terpesona melihat adegan seorang kakak menggandeng adiknya atau mendengar kisah persaudaraan yang selalu bersama dalam suka dan duka.
Baru kusadari bahwa persaudaraan yang dihiasi kasih sayang, saling mengerti, dan mau menerima kekurangan dan kelebihan yang dimiliki saudara kita dapat menghadirkan perasaan yang begitu indah. Indah, bahkan lebih indah dibanding kilau permata dan intan berlian. Lebih menyejukkan dari tetes embun dini hari. Aku telah menemukan harta yang paling berharga : persaudaraan yang penuh kasih sayang.
Minggu, 15 Juni 2008
Anugerah Allah
Sepanjang hidup, Allah Swt. begitu baik kepadaku. Saat saya kecil, terkenal sangat pendiam dan pemalu. Selalu menunduk jika disapa, hampir tidak terdengar suara ketika Ibu atau Bapak Guru menyuruh saya membaca di depan kelas. Tersenyum? Jangan harap, apalagi tertawa, kecuali ada sesuatu yang benar-benar kuanggap lucu. Kalau sudah demikian, saya tidak perduli anggapan orang. Pernah beberapa kali aku tertawa terus sementara teman-teman lain sudah berhenti. Tentu saja empat puluh tujuh pasang mata langsung memandang ke arahku. Beberapa di antara mereka berkomentar, "Wah, ini anak jarang tertawa, tapi sekali tertawa susah remnya!" Ya, saya memang pendiam, pemalu, dan jarang tersenyum, tetapi Allah Swt. menganugerahkan kepadaku keistimewaan yang termasuk jarang dimiliki anak-anak pada masaku.
Bagiku tidak terlalu sulit menghapalkan puisi yang panjang hanya dalam waktu sehari. Beberapa puisi atau pantun yang pernah kuhapalkan saat masih SD masih dapat kuingat sampai sekarang. Atau beberapa cerita dan dongeng yang pernah kubaca maupun kudengar dari ibuku hingga saat ini aku masih mampu mengingatnya dengan baik. Selain itu saya pun dapat menceritakan cerita berulang-ulang pada orang yang sama tanpa dia merasa bosan. Bahkan tidak jarang atas permintaan mereka sendiri. Bibi-bibi (terutama adik-adik bapakku) sangat antusias jika mendengarkan aku bercerita. Beliau bertambah gembira setiap kali aku mau bercerita lagi walaupun itu cerita yang sama. Sampai sekarang pun para bibi itu masih suka menagih cerita padaku melalui surat. Ini berarti saya harus mengirim surat yang berisi cerita.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Daya ingat yang tajam itu dan kemampuan untuk bercerita (khusus bidang kebahasaan dan apresiasi sastra Indonesia) ternyata sangat membantuku daam menjalankan profesiku sebagai pendidik.
Bagiku tidak terlalu sulit menghapalkan puisi yang panjang hanya dalam waktu sehari. Beberapa puisi atau pantun yang pernah kuhapalkan saat masih SD masih dapat kuingat sampai sekarang. Atau beberapa cerita dan dongeng yang pernah kubaca maupun kudengar dari ibuku hingga saat ini aku masih mampu mengingatnya dengan baik. Selain itu saya pun dapat menceritakan cerita berulang-ulang pada orang yang sama tanpa dia merasa bosan. Bahkan tidak jarang atas permintaan mereka sendiri. Bibi-bibi (terutama adik-adik bapakku) sangat antusias jika mendengarkan aku bercerita. Beliau bertambah gembira setiap kali aku mau bercerita lagi walaupun itu cerita yang sama. Sampai sekarang pun para bibi itu masih suka menagih cerita padaku melalui surat. Ini berarti saya harus mengirim surat yang berisi cerita.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Daya ingat yang tajam itu dan kemampuan untuk bercerita (khusus bidang kebahasaan dan apresiasi sastra Indonesia) ternyata sangat membantuku daam menjalankan profesiku sebagai pendidik.
Senin, 05 Mei 2008
Untuk Lembaga
Kali pertama saya mengenal lembaga tempat mengabdikan ilmu, banyak penilaian positif dalam pikiranku. Sampai detik ini saya sangat bersyukur dapat mendidik dan mengajar para tunas dan generasi muda harapan bangsa.
Kami mendapatkan banyak pembinaan yang sering diselenggarakan lembaga pendidikan ini. Semula pelatihan, pembinaan, atau apa pun sebutannya sangat membantu kami para pendidik. Selain menambah cakrawala pengetahuan juga mendapat pengalaman baru. Cukup banyak ide baru bermunculan setelah mengikuti pelatihan-pelatihan tersebut.
Bagaimana dengan sekarang atau akhir-akhir ini? Bagi saya pribadi, pelatihan yang diadakan akhir-akhir ini tidak seperti dulu lagi. Kering, membosankan, dan lebih baik mudik, he he he !
Saya tidak mengerti mengapa hal itu benar-benar saya rasakan. Mungkin saya yang belum dapat menemukan manfaat atau efek sampingan dari pelatihan tersebut.
Sesungguhnya saya bersyukur karena terdampar di lembaga pendidikan ini. Sebelumnya saya tidak menemukan ada lembaga yang mampu membuat para pegawainya agar percaya diri dan menunjukkan kemampuannya. Bahkan karyawan yang baru beberapa hari saja sudah dapat memberitahukan bahwa dirinya mampu melakukan sesuatu. Hal ini berbeda dengan tempat lain. Hanya mereka yang sudah menonjol akan terus menonjol. Jika karyawan baru tidak dapat memamerkan keistimewaan dirinya, maka selamanya ia akan tenggelam. Karyawan yang baru itulah yang harus berusaha. Tidak demikian halnya di lembaga ini. Setiap karyawan mendapat kesempatan sama untuk mengapresiasikan diri beserta segenap kemampuannya.
Saya telah mendapatkan banyak pengalaman dan pelajaran di sini. Lembaga ini berjasa besar bagi diriku. Tetapi terus terang saya tidak dapat memastikan termasuk golongan mana saya: setia sampai akhir hayat, setia sampai ada sesuatu yang mengharuskan tidak setia, atau setia sampai ada yang lain di hati. Saya tidak ingin munafik. Saya menjalani semua apa adanya tetapi saya tidak tahu yang kelak terjadi.
Setiap orang mempunyai hak untuk memilih sesuatu yang terbaik bagi dirinya. Mungkin saja kita merasa telah melakukan semua yang terbaik untuk dirinya, tetapi belum tentu menurut orang itu. Soal perasaan memang tidak dapat dipaksakan.
Jika ada hal yang membuat orang-orang tidak puas, alangkah baiknya bersikap mawas diri dan tidak sekadar menyalahkan mereka. Sikap yang baik adalah menelaah kekurangan diri, bukan
mencari-cari kesalahan pihak lain.
Masih sedikit yang saya lakukan bagi lembaga ini. Mungkin nanti, jika Allah memberikan umur panjang, insyaAllah, saya akan berusaha memberikan yang lebih dari sekarang. Entah kapan, walaupun tidak di tempat yang sama. Bagi saya, ukhuwah islamiah tidak terbatas oleh ruang dan waktu.
Kami mendapatkan banyak pembinaan yang sering diselenggarakan lembaga pendidikan ini. Semula pelatihan, pembinaan, atau apa pun sebutannya sangat membantu kami para pendidik. Selain menambah cakrawala pengetahuan juga mendapat pengalaman baru. Cukup banyak ide baru bermunculan setelah mengikuti pelatihan-pelatihan tersebut.
Bagaimana dengan sekarang atau akhir-akhir ini? Bagi saya pribadi, pelatihan yang diadakan akhir-akhir ini tidak seperti dulu lagi. Kering, membosankan, dan lebih baik mudik, he he he !
Saya tidak mengerti mengapa hal itu benar-benar saya rasakan. Mungkin saya yang belum dapat menemukan manfaat atau efek sampingan dari pelatihan tersebut.
Sesungguhnya saya bersyukur karena terdampar di lembaga pendidikan ini. Sebelumnya saya tidak menemukan ada lembaga yang mampu membuat para pegawainya agar percaya diri dan menunjukkan kemampuannya. Bahkan karyawan yang baru beberapa hari saja sudah dapat memberitahukan bahwa dirinya mampu melakukan sesuatu. Hal ini berbeda dengan tempat lain. Hanya mereka yang sudah menonjol akan terus menonjol. Jika karyawan baru tidak dapat memamerkan keistimewaan dirinya, maka selamanya ia akan tenggelam. Karyawan yang baru itulah yang harus berusaha. Tidak demikian halnya di lembaga ini. Setiap karyawan mendapat kesempatan sama untuk mengapresiasikan diri beserta segenap kemampuannya.
Saya telah mendapatkan banyak pengalaman dan pelajaran di sini. Lembaga ini berjasa besar bagi diriku. Tetapi terus terang saya tidak dapat memastikan termasuk golongan mana saya: setia sampai akhir hayat, setia sampai ada sesuatu yang mengharuskan tidak setia, atau setia sampai ada yang lain di hati. Saya tidak ingin munafik. Saya menjalani semua apa adanya tetapi saya tidak tahu yang kelak terjadi.
Setiap orang mempunyai hak untuk memilih sesuatu yang terbaik bagi dirinya. Mungkin saja kita merasa telah melakukan semua yang terbaik untuk dirinya, tetapi belum tentu menurut orang itu. Soal perasaan memang tidak dapat dipaksakan.
Jika ada hal yang membuat orang-orang tidak puas, alangkah baiknya bersikap mawas diri dan tidak sekadar menyalahkan mereka. Sikap yang baik adalah menelaah kekurangan diri, bukan
mencari-cari kesalahan pihak lain.
Masih sedikit yang saya lakukan bagi lembaga ini. Mungkin nanti, jika Allah memberikan umur panjang, insyaAllah, saya akan berusaha memberikan yang lebih dari sekarang. Entah kapan, walaupun tidak di tempat yang sama. Bagi saya, ukhuwah islamiah tidak terbatas oleh ruang dan waktu.
Nasihat Adik Ibuku
Cara bicara beliau tegas dan terdapat penekanan pada setiap kata. Jika tidak terbiasa, pasti mengira beliau sedang marah dan bisa-bisa merasa sakit hati. Maklumlah beliau seorang hakim
yang terbiasa memutuskan perkara di pengadilan.
Beliau adalah bibiku, adik almarhum ibuku. Sepeninggal kedua orang tuaku, beliau adalah pengganti orang tuaku. Dari beliau saya banyak belajar tentang banyak hal dalam kehidupan ini.
Nasihat yang paling kuingat adalah supaya saya selalu bersikap rendah hati. Tetap percaya diri namun menjauhkan diri dari merasa paling pandai, paling bisa, dan paling-paling lainnya yang bertujuan memamerkan kelebihan diri. "Mbak, di hadapan Allah kita ini tidak ada artinya. Jadi untuk apa kita sombong?"begitu nasihat beliau.
Setiap kali saya melihat seseorang yang menyombongkan diri hanya karena merasa lebih pandai dalam suatu bidang atau memiliki kedudukan maupun gelar yang lebih tinggi dibanding lawan bicara, saya terheran-heran. Saya tidak habis pikir apakah orang itu belum menyadari bahwa di atas langit ada langit? Bahwa sombong itu pakaian kebesaran Allah?
yang terbiasa memutuskan perkara di pengadilan.
Beliau adalah bibiku, adik almarhum ibuku. Sepeninggal kedua orang tuaku, beliau adalah pengganti orang tuaku. Dari beliau saya banyak belajar tentang banyak hal dalam kehidupan ini.
Nasihat yang paling kuingat adalah supaya saya selalu bersikap rendah hati. Tetap percaya diri namun menjauhkan diri dari merasa paling pandai, paling bisa, dan paling-paling lainnya yang bertujuan memamerkan kelebihan diri. "Mbak, di hadapan Allah kita ini tidak ada artinya. Jadi untuk apa kita sombong?"begitu nasihat beliau.
Setiap kali saya melihat seseorang yang menyombongkan diri hanya karena merasa lebih pandai dalam suatu bidang atau memiliki kedudukan maupun gelar yang lebih tinggi dibanding lawan bicara, saya terheran-heran. Saya tidak habis pikir apakah orang itu belum menyadari bahwa di atas langit ada langit? Bahwa sombong itu pakaian kebesaran Allah?
Mengapa Saya Membuat Blog?
Mengapa saya membuat blog ini? Bukan karena saya ahli komputer atau senang menghiasi blog dengan aneka gambar. Bukan pula karena saya ingin memasukkan blog orang lain atau memindahkan berita ke blog saya. Tidak, tetapi karena saya memang senang menulis dan memerlukan wadah untuk karya-karya yang saya hasilkan.
Saya menulis apa saja yang saya mau juga yang terlintas di benak. Bagi saya menulis tidak perlu menunggu berita turun dari langit. Jika saya ingin menuangkan sebuah puisi, maka akan kutulis puisi itu. Kalau saya tidak kuat menahan diri untuk tidak mengarang cerpen, maka akan kutumpahkan cerita yang tersimpan di pikiranku. Apabila saya ingin menulis opini, maka akan kugerakkan jari-jemari untuk mengetiknya. Saya akan menulis apa saja yang kusuka dan alangkah senangnya jika dapat berguna serta menyenangkan pembaca.
Saya yakin tulisan apa pun (asalkan itu tentang kebaikan) yang kita baca mengandung manfaat. Sayangnya tidak semua orang dapat menemukan manfaat suatu karya. Kepekaan rasa dan perenungan diri yang tinggi dituntut agar hikmah suatu karya dapat ditemukan.
Mengapa saya membuat blog ini? Karena saya ingin membuktikan bahwa sebenarnya kita dapat menulis sesuatu yang bermanfaat, apa pun karya kita, sesingkat apa pun tulisan kita.
Jujur, saya ingin mendudukkan, memasangkan kacamata, dan meminta orang yang mengomentari orang lain (yang sedang menulis dengan kalimat, "Menulis itu yang bermanfaat.") agar sudi meluangkan waktu sejenak untuk membaca karya tersebut. Menurut saya sangat mengherankan ada orang yang berkomentar demikian sementara ia belum membaca karya lawan bicaranya. Bagaimana dia bisa berkata demikian padahal membaca saja belum? Lalu bagaimana dengan dirinya? Apakah berkomentar demikian itu adalah sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya? Bagi saya memang berguna (meskipun sempat menyimpan dongkol bercampur geli. Kok ada ya orang yang iseng berkomentar seperti itu?) karena saya segera menemukan ide untuk bahan tulisan terbaru.
Mengapa saya membuat blog? Karena saya yakin semua karya memiliki suatu tulisan yang bertujuan baik pasti memiliki manfaat dan menyimpan hikmah.
Mengapa saya membuat blog? Sebab saya ingin menunjukkan bahwa saya memang senang menulis dan bukan sebab yang lain.
Saya menulis apa saja yang saya mau juga yang terlintas di benak. Bagi saya menulis tidak perlu menunggu berita turun dari langit. Jika saya ingin menuangkan sebuah puisi, maka akan kutulis puisi itu. Kalau saya tidak kuat menahan diri untuk tidak mengarang cerpen, maka akan kutumpahkan cerita yang tersimpan di pikiranku. Apabila saya ingin menulis opini, maka akan kugerakkan jari-jemari untuk mengetiknya. Saya akan menulis apa saja yang kusuka dan alangkah senangnya jika dapat berguna serta menyenangkan pembaca.
Saya yakin tulisan apa pun (asalkan itu tentang kebaikan) yang kita baca mengandung manfaat. Sayangnya tidak semua orang dapat menemukan manfaat suatu karya. Kepekaan rasa dan perenungan diri yang tinggi dituntut agar hikmah suatu karya dapat ditemukan.
Mengapa saya membuat blog ini? Karena saya ingin membuktikan bahwa sebenarnya kita dapat menulis sesuatu yang bermanfaat, apa pun karya kita, sesingkat apa pun tulisan kita.
Jujur, saya ingin mendudukkan, memasangkan kacamata, dan meminta orang yang mengomentari orang lain (yang sedang menulis dengan kalimat, "Menulis itu yang bermanfaat.") agar sudi meluangkan waktu sejenak untuk membaca karya tersebut. Menurut saya sangat mengherankan ada orang yang berkomentar demikian sementara ia belum membaca karya lawan bicaranya. Bagaimana dia bisa berkata demikian padahal membaca saja belum? Lalu bagaimana dengan dirinya? Apakah berkomentar demikian itu adalah sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya? Bagi saya memang berguna (meskipun sempat menyimpan dongkol bercampur geli. Kok ada ya orang yang iseng berkomentar seperti itu?) karena saya segera menemukan ide untuk bahan tulisan terbaru.
Mengapa saya membuat blog? Karena saya yakin semua karya memiliki suatu tulisan yang bertujuan baik pasti memiliki manfaat dan menyimpan hikmah.
Mengapa saya membuat blog? Sebab saya ingin menunjukkan bahwa saya memang senang menulis dan bukan sebab yang lain.
Langgan:
Entri (Atom)

